Minggu, 06 Mei 2018

Hidup (untuk) Kembali (?)

Penulis kembali lagi.

Minggu, 6 Mei 2018.

Akun blog ini sudah terbentuk lebih kurang 9 tahun. Tidak ingat persis hari dan tanggal pembentukan akun ini, yang jelas pada waktu itu akun ini dibentuk oleh seorang siswa Sekolah Menengah Pertama yang ingin mencoba eksis di dunia maya. Banyak cara mencari popularitas di dunia maya, salah satunya adalah dengan membuat akun setiap kali ada media sosial yang dipakai cukup banyak orang. Cara ini bahkan masih dilakukan oleh anak muda Indonesia. Ada yang dengan polosnya mencantumkan informasi pribadinya, ada pula yang membagikan koleksi foto miliknya yang (mungkin) seharusnya tidak dipublikasikan. Namun, ada juga yang membuat akun sekadar untuk menguntit (stalking), sekadar punya akun saja, dan sekadar-kadar lain yang melebihi niat awalnya.

Tulisan dari paragraf sebelumnya mungkin terbaca seperti basa-basi. Memang, harus diakui kalau penulis tidak mahir membuka suatu tulisan. Mungkin karena tidak terbiasa menulis, apalagi tulis di sebuah akun blog. Kurang tepat rasanya menyebut tulisan, karena bukan ditulis melainkan ditik (ya, 'ditik' bukan 'diketik' karena penulisan yang baku menurut KBBI adalah 'tik'). Ah, dirasa kurang tepat jika disebut penulis, mungkin kita ganti saja dengan pengetik karena sejatinya memasukkan angka, huruf, dan simbol atau karakter lainnya ke dalam suatu sistem komputer lebih mudah dengan cara ditik, daripada ditulis. Keduanya bisa dilakukan, akan tetapi siapa yang memilih menulis untuk memasukkan kata ke dalam sistem komputer? Dan kalau bisa dituliskan, buat apa diciptakan suatu teknologi yang sehari-harinya kita sebut dengan keyboard? Sambil lalu, kembali lagi ke frasa utama yang ada di kalimat awal dari paragraf ini. Yang mana yang utama? Ya, basa-basi.

Ha-ha, bahkan penulis masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk membuat basa-basi nya di tulisan ketikan ini. Karena ketidakluwesan penulis pengetik dalam membuat ketikan ini, pengetik pun meracau dengan sendirinya.

"Di mana strikethrough-nya?"

Sambil meracau, keluarlah kata umpatan itu. Sebagai petunjuk, kata umpatan yang terucap merupakan kata umpatan yang umum dalam bahasa Inggris. Mereka menyebutnya dengan 'F-word'. Tidak ada yang salah jika berucap kata umpatan, bahkan ketika tidak disengaja. Bahkan pengetik blog ini pernah menonton suatu program salah satu stasiun televisi luar negeri yang menyiratkan bahwa ketika kita sedang kesakitan, seperti akibat jari kaki menghantam kaki meja, mengumpat akan mengurangi rasa sakit ketimbang hanya mengeluhkan rasa sakit tanpa mengucapkan kata umpatan. Lalu buat apa kita mengumpat, kalau kita bisa menggantikan kata umpatan itu dengan kata-kata yang lebih baik? Banyak kata baik lain, kok. Kalau tidak bisa menggantikannya, saya rasa lebih baik diam tidak berucap. Biar hanya hati yang tahu.

"Lalu perlukah kita mengumpat?" itu yang terlintas di pemikiran pengetik.

Rasanya perlu. Kembali lagi kepada masing-masing individu. Kalau menurut pengetik sih, rasanya tidak.

Pengetik merasa sudah kehabisan ide mau berbasa-basi apa lagi. Ah sial! Kenapa masih sebut pengetik? Orang yang mengetik juga akan tetap menyebut diri mereka menulis, kan? Tak heran mereka menyebut diri mereka sebagai penulis, alih-alih pengetik. Padahal, yang mereka lakukan secara harfiah ya mengetik, bukan menulis. Ya sudah, berikutnya kita sebut saja penulis, menulis, dan tulisan. Satu lagi, tanpa kalian sadari, penulis boleh dibilang kontradiktif dalam tulisannya, karena menurutnya tidak perlu mengumpat, tetapi dia menulis kata sial dengan cetak miring.

Tunggu dulu, memangnya kata sial itu kata umpatan? Balik lagi ke masing-masing individu.

Dari kotamadya yang (katanya) gaul di Provinsi DKI Jakarta, Republik Indonesia,
Seorang yang ingin menjadi ambisius.